1. PENGERTIAN KONFLIK
Menurut Deutsch (1969), konflik adalah suatu perselisihan atau perjuangan yang timbul akibat terjadinya ancaman keseimbangan antara perasaan, pikiran, hasrat dan perilaku seseorang. Sedangkan Douglass dan Bevis (1979) mengartikan konflik sebagai suatu bentuk perjuangan diantara kekuatan interdependen. Perjuangan tersebut dapat terjadi baik didalam individu ( interpersonal conflict) ataupun didalam kelompok (intragroup conflict).
Sedangkan menurut James, A.F Stoner dan Charles Wanker, konflik merupakan ketidaksesuaian paham antara dua anggota atau lebih yang timbul karena fakta bahwa mereka harus membagi dalam mendapatkan sumber daya yang langka atau aktifitas pekerjaan atau karena fakta bahwa mereka memiliki status-status, tujuan-tujuan, nilai-nilai, atau persepsi yang berbeda.
2. PENYEBAB KONFLIK
Banyak faktor yang bertanggung jawab terhadap terjadinya konflik trutama dalam suatu organisasi. Faktor – faktor terebut dapat berupa perilaku yang menentang, stress, kondisi ruangan, kewenangan dokter-perawat, keyakinan, eksklusifisme, kekaburan tugas, kekurangan sumber daya, proses perubahan, imbalan, dan masalah komunikasi.
Penyebab lain terjadinya konflik karena adanya perbedaan nilai atau keyakinan antara satu dengan orang lain.
3. MANFAAT DAN KERUGIAN KONFLIK
- Fungsional (efek positif)
1. Memacu perkembangan organisasi untuk lebih efektif, kreatif, dan inovatif.
2. Meningkatkan kerjasama dalam organisasi
3. Mendapatkan aturan-aturan atau cara baru yang lebih baik dalam mengelola sumber daya.
4. Berhasil memperbaiki proses dan hasil pekerjaan.
- Disfungsional (efek negative)
1. Menghambat perkembangan organisasi
2. Kerjasama berkurang
3. Sulit untuk mengoordinasikan aktivitas-aktivitas kerja
4. Proses dan hasil pekerjaan tidak optimal
4. METODE PEMECAHAN MASALAH
- Accomodation (akomodasi)
- Sikap mengikuti keinginan pihak lain dan meratakan perbedaan-perbedaan agar konflik lebih cepat selesai dan memperhatikan kerja sama.
- Pressing (menekan)
- Sikap tidak memiliki kecenderungan pada salah satu pihak. Dengan strategi ini seseorang dapat mempengaruhi pendapat atau sikap orang lain.
- Avoidance (menghindar)
- Sikap menghindar terlebih dahulu dan kemudian masalah yang timbul diselesaikan dengan efektif pada saat setelah pihak yang terlibat menjadi tenang, konflik yang terjadi tidak memiliki kekuatan secara social, ekonomi, dan emosional.
- Konfrontasi
- Pihak yang berkonflik menyatukan pandangan mereka masing-masing secara langsung kepada pihak lain.
- Konsensus
Pihak yang berkonflik bertemu untuk menemukan solusi.
- Penetapan tujuan-tujuan super ordinat
Jika tujuan tingkat yang lebih tinggi disetujui semua pihak juga mencakup tujuan yang lebih rendah dari pihak yang bertentangan tidak hanya menyelesaikan konflik, tetapi juga membantu memperkuat kerjasama kelompok.
Selain yang disebutkan diatas ,ada beberapa strategi dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik seperti penggunaan disiplin, pertimbangan tahap kehidupan, komunikasi, lingkaran kualitas, dan latihan keasertifan.
DAFTAR PUSTAKA
- Buku ajar organisasi dan majemen pelayanan kesehatan serta kebidanan ,karangan M.Fais Satrianegara-Sitti Saleha, 2009, hal.83-88
- Buku ajar manajemen keperawatan , karangan agus kuncoro, 2010,hal 52-62
B. PENDELEGASIAN
Delegasi dalam praktek keperawatan professional sering mengalami masalah, dimana proses delegasi tidak dilaksanakan secara efektif. Hal ini diarenakan tiga hal :
§ under –delegasi : Pelimpahan tugas terlalu sedikit. Staf diberi wewenang yang sangat sedikit, terbatas dan sering tidak terlalu jelas.
§ over-delegasi : Pemberian delegasi berlebihan. Di sini dapat terjadi penyalahgunaan wewenang.
§ unproper delegasi : Pelimpahan yang tidak tepat.Kesalahan yang ditemukan adalah, pemberian tugas limpah, orang yang tepat, dan alasan delegasi hanya karena faktor senang/tidak senang. Pelimpahan ini tidak efektif karena kecendrungan pimpinan menilai pekerjaanya berdasarkan unsur Subyektif.
Pendelegasian (pelimpahan wewenang) merupakan salah satu elemen penting dalam fungsi pembinaan. Sebagai manajer perawat dan bidan menerima prinsip-prinsip delegasi agar menjadi lebih produktif dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Delegasi wewenang adalah proses dimana manajer mengalokasikan wewenang kepada bawahannya.
Ada empat kegiatan dalam delegasi wewenang:
1. Manager perawat/bidan menetapkan dan memberikan tugas dan tujuannya kepada orang yang diberi pelimpahan;
2. Manajer melimpahkan wewenang yang diperlukan untuk mencapai tujuan;
3. Perawat/bidan yang menerima delegasi baik eksplisit maupun implisit menimbulkan kewajiban dan tanggung jawab.
4. Manajer perawat/bidan menerima pertanggungjawaban (akontabilitas) atas hasil yang telah dicapai.
ALASAN PENDELEGASIAN
Ada beberapa alasan mengapa pendelegasian diperlukan.
- Pendelegasian memungkinkan manajer perawat/bidan mencapai hasil yang lebih baik dari pada semua kegiatan ditangani sendiri.
- Agar organisasi berjalan lebih efisien.
- Pendelegasian memungkinkan manajer perawat/bidan dapat memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas prioritas yang lebih penting.
- Dengan pendelegasian, memungkinkan bawahan untuk tumbuh dan berkembang, bahkan dapat dipergunakan sebagai bahan informasi untuk belajar dari kesalahan atau keberhasilan.
Manajer perawat/bidan seharusnya lebih cermat dalam mendelegasikan tugas dan wewenangnya, mengingat kegiatan perawat dan bidan berhubungan dengan keselamatan orang lain (pasen). Oleh karena itu sebelum mendelegasikan tugas/wewenang hendaknya dipahami benar tingkat kemampuan dari perawat/bidan yang akan diberikan delegasi.
Cara manajer perawat/bidan dalam melakukan pendelegasian
- Membuat perencanaan ke depan dan mencegah masalah.
- Menetapkan tujuan dan sasaran yang realistis
- Menyetujui standar kerja
- Menyelaraskan tugas atau kewajiban dengan kemampuan bawahan
- Melatih dan mengembangkan staf bawahan dengan memberikan tugas dan wewenang baik secara tertulis maupun lisan.
- Melakukan kontrol dan mengkoordinasikan pekerjaan bawahan dengan mengukur pencapaian tujuan berdasarkan standar serta memberikan umpan balik prestasi yang dicapai.
- Kunjungi bawahan lebih sering dan dengarkan keluhan - keluhannya.
- Bantu mereka untuk memecahkan masalahnya dengan memberikan ide ide baru yang bermanfaat.
- Memberikan ‘reward’ atas hasil yang dicapai.
- Jangan mengambil kembali tugas yang sudah didelegasikan.
TEKNIK PENDELEGASIAN
Manajer perawat/bidan pada seluruh tingkatan dapat menyiapkan tugas-tugas yang dapat didelegasikan dari eksekutif perawat sampai eksekutif departemen atau kepala unit, dan dari kepala unit sampai perawat/bidan klinis. Delegasi mencakup kewenangan untuk persetujuan, rekomendasi atau pelaksanaan. Tugas-tugas seharusnya dirangking dengan waktu yang diperlukan untuk melaksanakannya dan sebaiknya satu kewajiban didelegasikan pada satu waktu.
KAPAN TIDAK PERLU DILAKUKAN DELEGASI
Hindari mendelegasikan kekuasaan dan tetap mempertahankan moral dalam pelaksanaannya. Kontrol dilakukan khusus pada pekerjaan yang sangat teknis atau tugas tugas yang melibatkan kepercayaan. Hal ini merupakan hal yang kompleks dalam manajemen keperawatan/kebidanan, sehingga memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang khusus. Manajer perawat/bidan yang akan menangani hal tersebut seharusnya memiliki kemampuan ilmu manajemen dan perilaku. Mendelegasikan tugas dan tanggung jawab dapat menyebabkan perawat/bidan klinis berasumsi bahwa manajer tidak mampu untuk menangani tanggung jawab kepemimpinannya terhadap manajemen keperawatan/kebidanan.
Bagan 1. Hambatan - Hambatan Pendelegasian
Hambatan hambatan pada delegator |
| 1. Kemampuan yang diragukan oleh dirinya sendiri 2. Meyakini bahwa seseorang “mengetahui semua rincian” 3. “Saya dapat melakukannya lebih baik oleh diri saya sendiri” buah pikiran yang keliru. 4. Kurangnya pengalaman dalam pekerjaan atau dalam mendelegasikan 5. Rasa tidak aman 6. Takut tidak disukai 7. Penolakan untuk mengakui kesalahan 8. Kurangnya kepercayaan pada bawahan 9. Kesempurnaan, menyebabkan kontrol yang berlebihan 10. Kurangnya ketrampilan organisasional dalam menyeimbangkan beban kerja 11. Kegagalan untuk mendelegasikan kewenangan yang sepadan dengan tanggung jawab. 12. Keseganan untuk mengembangkan bawahan 13. Kegagalan untuk menetapkan kontrol dan tindak lanjut yang efektif. |
Hambatan hambatan pada yang diberi delegasi |
| 1. Kurangnya pengalaman 2. Kurangnya kompetensi 3. Menghindari tanggung jawab 4. Sangat tergantung dengan boss 5. Kekacauan [disorganization] 6. Kelebihan beban kerja 7. Terlalu memperhatikan hal hal yang kurang bermanfaat |
Hambatan hambatan dalam situasi |
| 1. Kebijakan tertuju pada satu orang 2. Tidak ada toleransi kesalahan 3. Kekritisan keputusan 4. Urgensi, tidak ada waktu untuk menjelaskan [krisis manajemen] 5. Kebingungan dalam tanggung jawab dan kewenangan. 6. Kekurangan tenaga |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar